Recent Videos

KRI Bintuni: LST Vessel Made in Indonesia








MADE IN INDONESIA -- The Indonesian Ministry of Defense (MoD) has held a handover ceremony for an indigenously produced landing ship tank (LST) vessel, dubbed the 'leopard carrier' by the Indonesian Navy (Tentara Nasional Indonesia - Angkatan Laut, or TNI-AL). The ceremony took place on 17 June.

The vessel, KRI Teluk Bintuni (520), had in fact been commissioned into the TNI-AL's Military Sea Lift Command (KOLINLAMIL) in a ceremony presided over by then Indonesian defence minister Purnomo Yusgiantoro in September 2014.

IHS Jane's understands that the LST returned to the shipbuilder PT Daya Radar Utama (PT DRU) for more work, following the commissioning.

According to specifications provided by the shipbuilder, Teluk Bintuni has a top speed of 16 kt and can accommodate up to 120 crew. The 5,200-tonne LST has a length of 120 m, a beam of 18 m, and a draft of 3 m.

Teluk Bintuni is powered by two South Korean-built STX MAN 9L27/38 engines, each rated at 3,285 kW at 800 rpm. (more)










N219 akan Segera Terbang

MADE IN INDONESIA --  Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (Lapan) mengumumkan sejumlah capaiannya sepanjang tahun 2015. Mulai dari peluncuran satelit LAPAN-A2 hingga diperkenalkannya pesawat hasil buatan dalam negeri, yakni N219.

Dikatakan Kepala Lapan Thomas Djamaluddin, sejumlah keberhasilan yang telah diraih oleh instansinya pada 2015, telah menumbuhkan kepercayaan diri Lapan sebagai pusat unggulan penerbangan dan antariksa, guna mewujudkan Indonesia yang maju dan mandiri.

"Pencapaian, prestasi, dan penghargaan pada 2015 ini menambah kepercayaan diri dan upaya untuk meningkatkan kinerja lembaga," kata Thomas dalam keterangan tertulisnya, Senin, 4 Januari 2016. (sumber)

Drone Buatan Dalam Negeri Ini akan Kawal Natuna dari Agresi Cina

MADE IN INDONESIA -- Untuk menjaga keamanan Natuna dan sekitarnya Kementerian Pertahanan (Kemhan) telah menyiapkan drone alias pesawat nirawak.

Adalah Yulian Paonganan alias Ongen yang mengerjakan drone itu. Kini telah menjalani proses akhir. Sebentar lagi akan diserahkan dan siap digunakan untuk mengawal daerah perbatasan.

Staf Ongen mengatakan, Drone untuk perbatasan dan Natuna kini sedang proses finishing.

“Sudah 95 persen pengerjaan, sebentar lagi kami akan serahkan ke Kemhan,” ujarnya kepada wartawan, Senin (28/3).

Sebelum diserahkan, Adhitya mengatakan pihaknya akan melakukan uji sistem internal terlebih dahulu untuk memastikan Drone yang akan diserahkan sempurna.

“Uji sistem internal kami lakukan, sehingga pada saat uji sistem yang dilakukan oleh pihak Kemhan bisa berjalan maksimal,” tegasnya.

Dari 3 unit Drone yang menjadi pesanan Kemhan, jelas Adhit, hampir semuanya sudah dalam proses finishing.

“Untuk perbatasan dan Natuna hampir bisa dipastikan sudah proses akhir. Doakan semunya berjalan maksimal,” tandas Adhit.

Diketahui, Drone yang diciptakan oleh Ongen setelah melakukan riset selama hampir 2,5 tahun ini memiliki spesifikasi yang terbilang canggih. Selain bisa terbang dan mendarat di air, Drone ini memiliki daya jelajah yang cukup luas. (sumber)

PT PAL Siapkan Infrastruktur untuk Produksi Kapal Selam Dalam Negeri

MADEININDONESIA -- PT PAL Indonesia (Persero) segera memproduksi kapal selam. Saat ini, proyek kapal ini sedang dikerjakan.

Pemerintah pusat pun telah mendukung penuh rencana pembangunan di bidang industri maritim ini.

Pemerintah bahkan tengah menyiapkan anggaran Rp 25 triliun untuk PT PAL. "Anggaran itu sudah kami siapkan," kata Kepala Staf Kepresidanan Luhut Binsar Panjaitan saat meninjau PT PAL di Surabaya, Kamis (28/5/2015).

Selain itu, PT PAL diminta memproduksi 500 kapal pelayaran rakyat (Pelra). Direktur Direktur Utama PT PAL M Firmansyah Arifin saat menemani Luhut menandaskan bahwa kapal selam itu sedang dikerjakan. "Kapal selam dalam pengerjaan," katanya.

Anggaran untuk produksi kapal selam itu sudah dianggarkan. Begitu juga infrastrukur termasuk tenaga ahlinya sudah siap. Nantinya, pengerjaan kapal selam itu akan diproduksi di PT PAL Surabaya.

Tidak saja membuat kapal selam, tapi juga untuk pengembangan industri maritim menyiapkan kapal untuk eskpor yang kini juga tengah diproduksi. PT PAL sedang mengerjakan 2 kapal perang untuk Filipina.

Kapal perang itu adalah kapal perang SSV (Strategic Sealift Vessel-123 meter). Informasi yang diterima, harga kapal perang ini sebesar 90 juta dolar AS. (sumber)

Indonesia Butuh 60 Rudal Jarak Sedang, kata Wamenhan

Wakil Menteri Pertahanan (Wamenhan) Sjafrie Sjamsoeddin mengatakan Indonesia membutuhkan sekitar 60 unit peluru kendali (rudal) jarak sedang untuk Kapal Cepat Rudal (KCR) TNI Angkatan Laut.

"Kita memerlukan sekitar 60 unit untuk dipasang di kapal-kapal cepat rudal TNI Angkatan Laut," katanya kepada Antara di Beijing, Selasa.

Indonesia dan Tiongkok telah sepakat untuk mengembangkan kerja sama industri pertahanan, salah satunya dalam produksi bersama rudal C-705 yang disertai alih teknologi.

"Sehingga nantinya kita sudah dapat memproduksinya sendiri, tanpa harus menunggu seluruh rudal dapat kita beli," kata Sjafrie.

Saat ini TNI Angkatan Laut tengah mengembangkan dua ship set sistem rudal C-705 dan akan dipasangkan di beberapa KCR, yang kini dalam proses di beberapa dockyard.

Rudal C-705 kali pertama diperkenalkan ke publik dalam ajang Zhuhai Airshow ke-7 pada 2008. Rudal itu merupakan pengembangan dari C-704 dan bentuknya menyerupai miniatur rudal C-602.

Dibandingkan generasi sebelumnya C-705 hadir dengan beberapa peningkatan seperti pada elemen hulu ledak, dan sistem pemandu. Dengan desain modular dari mesin baru membuat jangkauan rudal yang sebelumnya hanya 80 kilometer menjadi mampu hingga 170 kilometer. (antara)

Uji Coba Dua Roket di Garut Berhasil

Uji coba terhadap roket RX 450 dan RX 320 di Kecamatan Pameungpeuk, Kabupaten Garut, Jawa Barat, berhasil. Dua roket yang tengah dikembangkan untuk program peluncuran satelit tersebut memenuhi target saat menjalani pengujian berbeda.

Kepala Pusat Teknologi Roket Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN) Sutrisno mengatakan, roket RX 450 diuji statis sementara roket RX 320 diuji terbang (dinamis). Pengujian statis roket RX 450 ditujukan agar para peneliti LAPAN mengetahui performa motor roket.

"Hasilnya, uji statis terhadap RX 450 berhasil memenuhi target. Kami memprediksi durasi performa motor roket RX 450 adalah selama 18 detik. Namun hasil uji statis ini menunjukkan durasi waktunya mencapai 19,5 detik," kata Sutrisno di Garut, Jumat (22/8/2014).

Roket berkaliber 450 mm dengan panjang total 6.110 mm ini memiliki gaya dorong sekitar 12.895 kg. Roket yang menggunakan bahan bakar propelan komposit ini memiliki panjang motor 4.459 mm. "Setelah keberhasilan ini, kami akan mengagendakan uji terbang roket RX 450 di akhir 2014 mendatang," ujarnya.

Pengujian terbang roket RX 320 juga berhasil memenuhi harapan. Untuk alasan keamanan dan keselamatan jiwa para teknisi, peneliti, dan masyarakat di sekitar lokasi peluncuran, roket berdiameter 320 mm ini diterbangkan LAPAN pada kemiringan 70 derajat.

"Kami luncurkan di kemiringan 70 derajat. Jadi tidak tegak lurus. Namun, hasilnya cukup memuaskan. Berdasarkan data dari rekaman yang kami miliki, roket RX 320 berhasil terbang pada ketinggian antara 20 hingga 30 km. Ketinggian ini cukup memenuhi target, karena hanya diluncurkan dalam posisi elevasi 70 derajat. Kalau diluncurkan dengan posisi tegak lurus, daya jangkaunya akan lebih jauh lagi," paparnya.

Menurut Sutrisno, RX 450 dan RX 320 merupakan jenis roket sonda. Roket sonda adalah roket yang biasa digunakan untuk misi meneliti parameter atmosfer, kelembaban temperatur, dan lainnya.

"Jadi, jika kita mampu menguasai teknologi roket sonda, meluncurkan satelit sendiri di kemudian hari bukan hal yang tidak mungkin lagi. Kami akan terus mencoba, meneliti, dan mengembangkan masing-masing roket sesuai tahapan-tahapannya. Karena untuk meluncurkan satelit pada ketinggian tertentu, diperlukan lebih dari satu roket atau bertingkat." (sindonews)

Lapan 'Curi Ilmu' dari Organisasi Antariksa Asia Pasifik

Teknologi keantariksaan sudah menjadi tren di berbagai negara. Mereka berlomba-lomba untuk meningkatkan kemampuan di bidang ini, termasuk Indonesia.

Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (Lapan) pun tak ingin tinggal diam melihat tren global ini. Bersama organisasi keantariksaan Asia Pasifik-- Asia-Pasific Space Cooperation Organization (APSCO)-- Lapan menyelenggarakan International Training Course on Global Navigation Satellite System (GNSS) Technology and its Application di All Sedayu Hotel Jakarta, dari 26 Agustus-3 September 2014. Melalui pelatihan tersebut, diharapkan para ilmuwan dan peminat antariksa bisa saling bertukar ilmu, khususnya sistem navigasi satelit global.

"Kerja sama pelatihan ini meliputi semua aspek keantariksaan, khususnya di sistem navigasi satelit global beserta teknologi dan pemanfaatannya," ujar Kepala Lapan Thomas Djamaluddin saat konferensi pers di All Sedayu Jakarta, Selasa 26 Agustus 2014.
Teknologi keantariksaan sangat bermanfaat untuk berbagai kegiatan, seperti penginderaan jauh terkait mitigasi bencana. "Terkait teknologi untuk satelit itu mudah, aeronautika lumayan, roket itu yang sulit. Diharapkan melalui kerja sama dengan APSCO, kita bisa mengembangkannya," ungkapnya.

Menurut Thomas, pelatihan ini akan mengkaji mengenai proses dan teknis ketika satelit harus dikirim ke antariksa. Tidak hanya terkait dengan wahana yang disematkan di ujung roket, tapi juga mengenai jalur atau lintasan terbang, serta bagaimana mengimplementasikan penghematan.

Ketika ditanya seberapa lama kerja sama Lapan dengan APSCO, Thomas mengungkapkan hal ini merupakan seperti paguyuban saja. "Begitu juga dengan budget, tidak ada budget khusus untuk kerja sama ini," kata dia.

Pelatihan ini diikuti oleh perwakilan dari berbagai negara anggota APSCO yaitu Bangladesh, Tiongkok, Iran, Mongolia, Pakistan, Peru, Thailand, dan Turki. Sedangkan dari Indonesia ada 13 orang yang mewakili Lapan, BIG, BMKG, Kementerian Perhubungan, UI, ITB, IPB, dan Kementerian Pertahanan.

"Bagi Indonesia ini tidak hanya soal aspek teknologi tapi juga sains. Dimana nantinya perwakilan ini mempunyai bekal yang mumpuni, seperti navigasi yang bisa diterapkan menurut bidang pekerjaan masing-masing," kata Agus Hidayat Kepala Biro Kerjasama dan Humas Lapan, ditemui pada kesempatan yang sama. (viva.co.id)

Jokowi Ingin Beli Drone, Kemenhan: Kita Sudah Punya

Rencana Jokowi yang ingin membeli tiga drone (pesawat tanpa awak) untuk memantau kegiatan illegal fishing, illegal logging, dan kebakaran hutan ditanggap Kementerian Pertahanan (Kemenhan).

Kepala Puskom Publik Kemenhan Brigjen Sisriadi menyatakan, TNI AU sudah punya, dan saat ini sedang menyiapkan satu skuadron khusus pesawat terbang tanpa awak (PPAT). Nantinya, sebanyak 12 unit PPAT akan ditempatkan di Lanud Supadio, Pontianak.

Menurut Sisriadi, dari 12 unit, sebanyak enam merupakan produk dalam negeri yang diberi nama Wulung, dan sisanya dibeli dari luar. Dia menyatakan, sebanyak enam unit sudah dibuat tim konsorsium terdiri PT Dirgantara Indonesia (DI), Kemenhan, serta Kementerian Riset dan Teknologi (Kemenristek).

"Kita sudah beli. Enam lainnya dibeli dari Filipina, dan dua sudah datang, dibeli dari Filipina," kata Sisriadi kepada Republika Online, kemarin.

Dia menyatakan, satu skuadron PPTA sengajak merupakan kombinasi produk dalam negeri dan luar negeri. Pasalnya, harus diakui teknologi produk luar negeri masih lebih bagus. Sambil riset terus dilakukan, pihaknya berharap nantinya produk PPTA buatan PT DI bisa berkembang dan menyaingi negara maju.

Kepala Divisi Perencanaan Komite Kebijakan Industri Pertahanan (KKIP) Said Didu mengatakan, drone yang ramai dibicarakan publik itu bukan sebuah teknologi yang luar biasa. "Drone itu kan istilah yg rumit amat. Saya agak ketawa mendengarnya, itu semacam mainan remote control," kata Said.

Menurut dia, bangsa Indonesia sudah menguasai cara pembuatan PPAT. Bahkan, tidak sedikit 'drone' buatan rumah tangga yang dijual di pasaran. Hanya saja, ia mengakui, secara teknologi masih perlu ditingkatkan. Kendati begitu, ia juga mengklarifikasi pernyataan Hatta Rajasa di debat capres bahwa pengoperasian PPAT tidak perlu satelit. (republika)

Kemhan dorong PT DI kembangkan helikopter serang

Kementerian Pertahanan akan mendorong PT Dirgantara Indonesia (DI) untuk mengembangkan helikopter serang, menyusul rencana pemerintah Indonesia membeli delapan unit helikopter serang Apache AH-64 dari Amerika Serikat untuk TNI Angkatan Darat.

"Yang dibutuhkan satu skuadron helikopter serang atau sebanyak 16 unit," kata Menteri Pertahanan Purnomo Yusgiantoro, yang ditemui sesaat setelah peluncuran buku yang ditulis anggota Komisi I DPR Susaningtyas Nefo Handayani Kertopati berjudul "Komunikasi dalam Kinerja Intelijen Keamanan" di Jakarta, Jumat (30/8) malam.

Ia lantas menjelaskan,"Kalau kita beli delapan unit helikopter Apache, berarti baru setengah skuadron. Mungkin ada kombinasi, seperti halnya pesawat tanpa awak (UAV), setengah skuadronnya merupakan buatan dalam negeri."

Pengembangan helikopter serang yang dibangun oleh PT DI, kata dia, diharapkan spesifikasi dan kemampuannya tak jauh berbeda dengan helikopter Apache.

"Mungkin spesifikasinya masih di bawah Apache, tetapi kemampuannya tak begitu jauh," kata Menhan.

Purnomo mengatakan bahwa pihaknya telah mengutus Sekjen Kemhan Budiman, yang saat ini telah dilantik menjadi Kepala Staf TNI Angkatan Darat (KSAD), ke Amerika Serikat untuk mengetahui secara pasti detail spesifikasi helikopter serang Apache itu.

"Spesifikasi teknologinya harus jelas betul, yang dibeli seperti apa. Terakhir yang berangkat ke AS adalah Sekjen Kemhan yang saat ini menjadi KSAD," katanya.

Menurut Purnomo, sistem persenjataan sebuah alat tempur sangat memengaruhi harga. Suatu peralatan tempur yang dilengkapi dengan sistem deteksi radar tentu lebih mahal daripada yang tidak ada.

Ia menegaskan bahwa pembelian helikopter Apache merupakan rencana pertahanan jangka panjang. Oleh sebab itu, kenaikan nilai tukar rupiah terhadap dolar diharapkan tidak akan berpengaruh banyak terhadap rencana pembelian itu. (antara)
 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2013. Made In Indonesia - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger